Tantangan Implementasi Lark di Perusahaan dan Cara Mengatasinya

Efisiensi operasional dalam lanskap korporasi modern sangat bergantung pada koherensi aliran informasi antar departemen. Fragmentasi alat kolaborasi di mana pesan instan, dokumen, kalender, dan sistem persetujuan berada di platform yang berbeda sering kali menjadi sumber inefisiensi yang menguras sumber daya perusahaan. Implementasi Lark sebagai solusi all-in-one menjanjikan integrasi total untuk menghapus sekat-sekat digital tersebut. Namun, transisi menuju platform yang komprehensif ini menuntut kesiapan fundamental, baik dari sisi infrastruktur teknis maupun kesiapan budaya organisasi. Tulisan ini akan membedah hambatan nyata yang sering ditemui di lapangan serta memberikan kerangka kerja strategis untuk memastikan adopsi teknologi ini memberikan dampak maksimal bagi pertumbuhan bisnis.

Tantangan utama implementasi Lark terletak pada resistensi karyawan terhadap perubahan kebiasaan (culture shock), kompleksitas migrasi data dari sistem lama, dan kurangnya pemahaman mendalam atas fitur integrasi yang tersedia. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan pendekatan bertahap (phased rollout), menunjuk ‘Internal Champions’ sebagai mentor, serta menyusun standar operasional (SOP) baru yang menyatukan alur kerja di dalam satu ekosistem Lark agar manfaat efisiensinya langsung terasa oleh tim.

Mulai dari resistensi karyawan, migrasi data, perubahan alur kerja, hingga kurangnya pemahaman terhadap fitur Lark, semuanya perlu dipersiapkan sejak awal. Tanpa strategi yang tepat, platform yang seharusnya membantu produktivitas justru berpotensi tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Lalu, apa saja tantangan implementasi Lark di perusahaan dan bagaimana cara mengatasinya?

1. Resistensi Karyawan terhadap Perubahan

Salah satu tantangan paling umum dalam implementasi sistem digital adalah penolakan terhadap perubahan. Karyawan yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi atau metode kerja tertentu belum tentu langsung menerima sistem baru.

Sebagian mungkin merasa nyaman dengan cara kerja lama. Sebagian lainnya khawatir harus mempelajari banyak fitur baru. Ada juga yang menganggap perubahan sistem hanya akan menambah pekerjaan.

Kondisi seperti ini sangat wajar. Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya mengumumkan bahwa Lark akan digunakan, kemudian berharap seluruh karyawan langsung beradaptasi.

Cara mengatasinya

Libatkan karyawan sejak tahap awal. Jelaskan alasan perusahaan menggunakan Lark dan bagaimana platform tersebut dapat membantu pekerjaan mereka.

Misalnya, daripada menjelaskan bahwa Lark memiliki fitur kolaborasi dokumen, perusahaan dapat memberikan contoh yang lebih konkret:

“Mulai sekarang, tim tidak perlu lagi mengirim file laporan berkali-kali melalui chat. Dokumen dapat dikerjakan bersama dan perubahan bisa dilihat secara langsung.”

Pendekatan seperti ini membuat manfaat Lark lebih mudah dipahami karena dikaitkan langsung dengan aktivitas sehari-hari.

2. Kurangnya Pemahaman terhadap Fitur Lark

Lark menyediakan banyak fitur yang dapat digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan bisnis. Justru karena fiturnya cukup luas, pengguna baru terkadang merasa bingung harus mulai dari mana.

Karyawan mungkin hanya menggunakan fitur chat dan meeting, sementara fitur lain yang sebenarnya dapat membantu pekerjaan belum dimanfaatkan.

Akibatnya, perusahaan sudah berinvestasi dalam implementasi Lark, tetapi tingkat pemanfaatannya masih rendah.

Cara mengatasinya

Perusahaan perlu membuat program training Lark yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tim.

Tidak semua karyawan harus mempelajari seluruh fitur sekaligus. Tim HR, misalnya, mungkin membutuhkan workflow dan pengelolaan data yang berbeda dengan tim marketing atau finance.

Pelatihan dapat dilakukan secara bertahap:

  • Pengenalan dasar Lark
  • Komunikasi dan kolaborasi
  • Pengelolaan dokumen
  • Penggunaan Lark Base
  • Workflow dan otomasi
  • Fitur lanjutan sesuai kebutuhan divisi

Dengan pendekatan bertahap, proses belajar menjadi lebih mudah dan tidak membuat pengguna kewalahan.

3. Migrasi Data dari Sistem Lama

Migrasi data sering menjadi salah satu bagian paling kompleks dalam implementasi Lark.

Perusahaan mungkin sudah memiliki data yang tersimpan di berbagai tempat, seperti spreadsheet, aplikasi komunikasi, cloud storage, atau sistem internal. Memindahkan semuanya ke lingkungan baru membutuhkan perencanaan agar tidak terjadi kehilangan atau duplikasi data.

Selain itu, tidak semua data lama harus dipindahkan.

Cara mengatasinya

Sebelum melakukan migrasi, perusahaan sebaiknya melakukan data audit.

Kelompokkan data berdasarkan:

  1. Data yang wajib dipindahkan.
  2. Data yang masih digunakan tetapi perlu dirapikan.
  3. Data arsip.
  4. Data yang sudah tidak relevan.
  5. Data yang perlu dihapus sesuai kebijakan perusahaan.

Setelah itu, tentukan struktur penyimpanan di Lark.

Langkah ini penting karena migrasi bukan sekadar memindahkan file dari satu tempat ke tempat lain. Idealnya, migrasi juga menjadi kesempatan untuk merapikan sistem data perusahaan.

4. Perubahan Alur Kerja

Implementasi Lark terkadang gagal bukan karena platformnya tidak mampu memenuhi kebutuhan perusahaan, tetapi karena sistem baru dipaksakan mengikuti alur kerja lama tanpa evaluasi.

Padahal, digitalisasi seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki proses.

Contohnya, perusahaan memiliki proses pengajuan cuti yang sebelumnya dilakukan melalui email, kemudian HR harus memeriksa data secara manual. Dengan workflow yang tepat, proses tersebut dapat dibuat lebih terstruktur dan mudah dipantau.

Cara mengatasinya

Lakukan mapping proses bisnis sebelum konfigurasi Lark.

Identifikasi:

  • siapa yang mengajukan pekerjaan,
  • siapa yang memeriksa,
  • siapa yang menyetujui,
  • data apa yang dibutuhkan,
  • berapa lama proses berlangsung,
  • dan di mana biasanya terjadi hambatan.

Dari sana, perusahaan dapat menentukan proses mana yang cukup dipindahkan ke Lark dan proses mana yang sebaiknya sekaligus diperbaiki.

5. Integrasi dengan Sistem yang Sudah Ada

Banyak perusahaan tidak memulai dari kondisi “nol”. Mereka biasanya sudah memiliki ERP, CRM, sistem HR, software accounting, atau aplikasi internal lainnya.

Karena itu, implementasi Lark perlu mempertimbangkan bagaimana platform tersebut akan berinteraksi dengan sistem yang sudah digunakan.

Jika tidak direncanakan dengan baik, pengguna justru harus memasukkan informasi yang sama ke beberapa sistem.

Baca Juga: Lark Partner Indonesia untuk Implementasi Sistem Kerja Digital

Cara mengatasinya

Buat peta sistem yang digunakan perusahaan sebelum implementasi.

Tentukan:

  • sistem apa yang menjadi sumber data utama,
  • data apa yang perlu disinkronkan,
  • proses mana yang membutuhkan integrasi,
  • siapa yang bertanggung jawab atas setiap sistem,
  • dan bagaimana data akan berpindah antarplatform.

Tidak semua sistem harus langsung diintegrasikan. Prioritaskan integrasi yang memberikan dampak paling besar terhadap efisiensi operasional.

6. Kurangnya Dukungan dari Manajemen

Implementasi sistem kerja baru membutuhkan dukungan dari level manajemen. Jika pimpinan sendiri masih menggunakan metode lama, karyawan akan kesulitan mengikuti perubahan.

Misalnya, perusahaan meminta semua dokumen proyek dikerjakan melalui Lark, tetapi pimpinan tetap meminta laporan dikirim melalui aplikasi lain. Pada akhirnya, karyawan harus menggunakan dua sistem sekaligus.

Cara mengatasinya

Manajemen perlu menjadi contoh dalam penggunaan Lark.

Jika Lark ditetapkan sebagai salah satu platform kerja utama, maka pimpinan juga sebaiknya menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari, seperti:

  • komunikasi proyek,
  • meeting,
  • berbagi dokumen,
  • approval,
  • monitoring pekerjaan,
  • dan kolaborasi antaranggota tim.

Dukungan dari manajemen juga membantu memberikan pesan bahwa implementasi Lark merupakan bagian dari perubahan sistem kerja perusahaan, bukan sekadar proyek IT.

7. Struktur Hak Akses yang Tidak Tepat

Ketika semakin banyak data perusahaan berada di satu platform, pengaturan akses menjadi hal yang penting.

Tidak semua karyawan membutuhkan akses ke seluruh dokumen atau database. Kesalahan konfigurasi dapat menyebabkan data terlalu terbuka atau justru membuat pengguna tidak dapat mengakses informasi yang mereka perlukan.

Cara mengatasinya

Buat struktur hak akses berdasarkan peran dan kebutuhan pekerjaan.

Misalnya:

  • Admin memiliki akses pengelolaan sistem.
  • Manager dapat melihat data timnya.
  • Anggota tim memiliki akses sesuai tugas.
  • Pihak eksternal hanya mendapatkan akses pada informasi tertentu.

Perusahaan juga perlu melakukan review akses secara berkala, terutama ketika ada karyawan yang pindah divisi atau sudah tidak bekerja di perusahaan.

8. Implementasi Terlalu Cepat

Keinginan untuk segera menggunakan sistem baru terkadang membuat perusahaan melakukan implementasi secara terburu-buru.

Semua fitur ingin diaktifkan sekaligus. Semua divisi ingin langsung menggunakan Lark. Semua data ingin dipindahkan dalam waktu singkat.

Hasilnya justru dapat membuat proses transisi menjadi lebih rumit.

Cara mengatasinya

Gunakan pendekatan bertahap.

Perusahaan dapat memulai dari satu atau beberapa divisi sebagai pilot project. Dari tahap tersebut, perusahaan dapat melihat:

  • fitur yang paling sering digunakan,
  • kendala pengguna,
  • masalah pada workflow,
  • kebutuhan training tambahan,
  • serta perubahan yang perlu dilakukan.

Setelah sistem cukup stabil, implementasi dapat diperluas ke divisi lainnya.

9. Tidak Ada Tim atau PIC yang Bertanggung Jawab

Implementasi Lark membutuhkan pihak yang bertanggung jawab terhadap prosesnya. Tanpa PIC yang jelas, berbagai masalah kecil dapat menumpuk karena tidak ada pihak yang mengambil keputusan.

Pengguna mungkin bingung harus bertanya kepada siapa ketika mengalami masalah.

Cara mengatasinya

Bentuk tim implementasi yang melibatkan beberapa fungsi, misalnya:

  • IT,
  • HR,
  • operasional,
  • perwakilan setiap divisi,
  • dan manajemen.

Selain itu, tentukan Lark champion atau pengguna internal yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai platform.

Mereka dapat menjadi penghubung antara pengguna dan tim implementasi.

10. Tidak Ada Evaluasi Setelah Go-Live

Go-live bukan berarti proses implementasi selesai.

Justru setelah sistem digunakan oleh banyak orang, perusahaan mulai mendapatkan informasi nyata tentang apa yang berhasil dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Tanpa evaluasi, masalah yang muncul setelah go-live bisa dibiarkan terlalu lama.

Cara mengatasinya

Buat evaluasi berkala berdasarkan indikator yang jelas.

Misalnya:

  • tingkat adopsi pengguna,
  • jumlah pengguna aktif,
  • penggunaan fitur utama,
  • waktu penyelesaian proses,
  • jumlah pekerjaan manual,
  • jumlah kendala pengguna,
  • dan feedback dari setiap divisi.

Dari data tersebut, perusahaan dapat menentukan prioritas optimasi berikutnya.

Mengapa Pendampingan Profesional Dibutuhkan?

Implementasi Lark memang dapat dilakukan secara internal, terutama untuk perusahaan dengan kebutuhan sederhana. Namun, semakin kompleks struktur organisasi dan proses bisnis, semakin besar pula kebutuhan terhadap perencanaan dan pendampingan.

Di sinilah konsultan Lark Partner Indonesia dapat membantu.

Konsultan tidak hanya berfokus pada konfigurasi platform. Pendampingan dapat mencakup analisis kebutuhan, perancangan workflow, migrasi data, training pengguna, hingga evaluasi setelah implementasi.

Pendekatan ini membantu perusahaan menghindari kesalahan yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Yang paling penting, implementasi tidak berhenti pada “Lark sudah terpasang”. Tujuan akhirnya adalah memastikan Lark benar-benar digunakan untuk membuat pekerjaan menjadi lebih sederhana, terukur, dan terintegrasi.

Strategi Implementasi Lark agar Berjalan Lebih Lancar

Jika dirangkum, perusahaan dapat menggunakan tahapan berikut:

1. Identifikasi kebutuhan bisnis

Tentukan masalah utama yang ingin diselesaikan melalui Lark.

2. Audit sistem yang digunakan

Petakan aplikasi, data, workflow, dan proses komunikasi yang sudah berjalan.

3. Tentukan prioritas

Tidak semua fitur perlu diterapkan sekaligus. Fokus pada kebutuhan dengan dampak terbesar.

4. Siapkan struktur sistem

Atur workspace, hak akses, database, workflow, serta struktur informasi.

5. Jalankan pilot project

Uji implementasi pada kelompok pengguna tertentu sebelum diperluas.

6. Berikan training

Pastikan pengguna memahami bukan hanya cara menggunakan fitur, tetapi juga kapan dan mengapa fitur tersebut digunakan.

7. Lakukan migrasi data

Pindahkan data yang memang diperlukan setelah struktur sistem siap.

8. Go-live secara bertahap

Perluasan implementasi dapat dilakukan setelah hasil pilot menunjukkan sistem sudah cukup stabil.

9. Evaluasi dan optimasi

Kumpulkan feedback pengguna dan gunakan data penggunaan untuk menentukan perbaikan berikutnya.

FAQ

Apakah implementasi Lark sulit untuk perusahaan?

Tingkat kesulitannya bergantung pada ukuran perusahaan, jumlah pengguna, kompleksitas workflow, kebutuhan integrasi, serta kondisi sistem yang sudah digunakan. Semakin kompleks kebutuhan perusahaan, semakin penting perencanaan implementasi yang matang.

Berapa lama implementasi Lark di perusahaan?

Tidak ada durasi yang sama untuk semua perusahaan. Implementasi sederhana dapat berlangsung lebih cepat, sementara perusahaan dengan banyak pengguna, workflow kompleks, migrasi data, dan kebutuhan integrasi membutuhkan waktu lebih panjang.

Apakah semua data lama harus dipindahkan ke Lark?

Tidak. Perusahaan sebaiknya melakukan audit terlebih dahulu untuk menentukan data yang benar-benar masih dibutuhkan. Memindahkan seluruh data tanpa klasifikasi justru dapat membuat sistem baru menjadi tidak terstruktur.

Apakah karyawan perlu mengikuti training Lark?

Sangat disarankan. Training membantu mempercepat adopsi dan mengurangi kesalahan penggunaan. Materi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing divisi.

Apakah perusahaan membutuhkan konsultan untuk implementasi Lark?

Tidak selalu, tetapi konsultan dapat membantu perusahaan yang memiliki kebutuhan kompleks atau ingin mempercepat proses implementasi. Pendampingan profesional juga dapat membantu perusahaan merancang workflow, migrasi data, training, dan optimasi secara lebih terstruktur.

Tantangan implementasi Lark di perusahaan bukan hanya berkaitan dengan teknologi. Faktor manusia, proses bisnis, data, integrasi, dan dukungan manajemen memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan implementasi.

Resistensi pengguna dapat dikurangi melalui komunikasi dan training. Masalah migrasi dapat diatasi dengan audit data. Workflow dapat diperbaiki melalui pemetaan proses bisnis. Sementara itu, risiko implementasi yang terlalu cepat dapat diminimalkan melalui pilot project dan penerapan secara bertahap.

Pada akhirnya, keberhasilan implementasi Lark tidak diukur dari seberapa banyak fitur yang berhasil diaktifkan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar Lark mampu membantu perusahaan bekerja lebih efektif.

Dengan perencanaan yang matang, dukungan manajemen, pelatihan yang tepat, serta pendampingan profesional bila diperlukan, Lark dapat menjadi bagian penting dari sistem kerja digital perusahaan yang lebih terintegrasi dan efisien.

Konsultasi Gratis đź’¬

Dari strategi digital hingga implementasi teknologi, Onero.id siap menjadi partner transformasi Anda.

Don't forget to share this post!

Konsultasi Gratis đź’¬

Dari strategi digital hingga implementasi teknologi, Onero.id siap menjadi partner transformasi Anda.