URL sering kali dianggap sebagai bagian kecil dari sebuah website. Selama halaman bisa dibuka, URL dianggap sudah berfungsi dengan baik. Padahal, struktur URL yang buruk dapat membuat website lebih sulit dikelola, membingungkan pengunjung, dan dalam kondisi tertentu menyulitkan mesin pencari memahami struktur halaman.
Dalam optimasi SEO, URL memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan posisi sebuah halaman di Google. Namun, URL yang rapi dan deskriptif tetap membantu memberikan konteks tentang isi halaman sekaligus menciptakan struktur website yang lebih mudah dipahami.
Sayangnya, masih banyak website yang menggunakan URL terlalu panjang, penuh angka, memiliki parameter yang tidak diperlukan, atau bahkan berubah-ubah setelah halaman mendapatkan traffic.
 Kesalahan utama dalam pembuatan URL meliputi penggunaan parameter dinamis yang rumit, penyertaan angka atau tanggal yang tidak perlu, penggunaan garis bawah (underscore) alih-alih tanda hubung (hyphen), serta struktur yang terlalu panjang dan tidak deskriptif. URL yang ideal haruslah singkat, menggunakan huruf kecil semua, mengandung kata kunci utama, dan mudah dibaca oleh manusia maupun mesin. Optimasi ini sangat krusial karena URL yang buruk dapat menurunkan skor kepercayaan (trust) dan menghambat proses crawling Google.

Lantas, kesalahan apa saja yang perlu dihindari ketika membuat URL agar tidak mengganggu SEO website?
Apa Itu URL SEO Friendly?
URL SEO friendly adalah alamat halaman website yang memiliki struktur sederhana, jelas, relevan dengan konten, dan mudah dibaca manusia maupun mesin pencari.
Sebagai contoh:
website.com/cara-membuat-url-seo-friendly
URL tersebut langsung memberikan gambaran mengenai isi halaman.
Bandingkan dengan:
website.com/page.php?id=92837&cat=seo123
Pengunjung tidak mendapatkan informasi berarti dari URL kedua tersebut.
URL yang baik tidak harus panjang atau dipenuhi keyword. Justru, semakin sederhana dan relevan struktur URL, biasanya semakin mudah dipahami.
1. Membuat URL Terlalu Panjang
Salah satu kesalahan yang sering ditemukan adalah URL dibuat terlalu panjang karena seluruh judul artikel dimasukkan ke dalam slug.
Misalnya judul artikel:
“10 Kesalahan Membuat URL yang Bisa Mengganggu SEO Website dan Cara Memperbaikinya”
Kemudian seluruh judul dijadikan URL:
website.com/10-kesalahan-membuat-url-yang-bisa-mengganggu-seo-website-dan-cara-memperbaikinya
URL tersebut sebenarnya masih dapat digunakan, tetapi bisa dibuat lebih ringkas:
website.com/kesalahan-url-mengganggu-seo
Versi kedua lebih pendek dan tetap menggambarkan topik halaman.
Tidak ada angka ajaib mengenai berapa karakter URL yang wajib digunakan. Fokus utamanya adalah menghilangkan kata-kata yang tidak memberikan nilai tambahan.
2. Memasukkan Keyword Berkali-kali
URL juga bisa mengalami keyword stuffing.
Contohnya:
website.com/jasa-seo/jasa-seo-terbaik/jasa-seo-murah/jasa-seo-profesional
Penggunaan keyword berkali-kali tidak membuat URL menjadi lebih SEO friendly.
Lebih baik gunakan satu keyword utama atau frasa yang paling relevan:
website.com/jasa-seo-website
URL tersebut sudah cukup untuk memberikan konteks mengenai halaman.
SEO bukan perlombaan memasukkan keyword sebanyak mungkin. Relevansi dan struktur yang jelas jauh lebih penting.
3. Menggunakan URL yang Tidak Menggambarkan Isi Halaman
Bayangkan Anda menemukan URL:
website.com/blog/article-123
Tanpa membuka halaman, Anda tidak tahu artikel tersebut membahas apa.
Bandingkan dengan:
website.com/blog/tips-seo-untuk-pemula
URL kedua jauh lebih informatif.
Jika memungkinkan, gunakan slug yang menggambarkan topik utama halaman. Pengunjung dapat memahami konteks hanya dengan melihat alamat halaman.
4. Menggunakan Terlalu Banyak Angka dan Parameter
URL seperti:
website.com/article?id=123456&category=7&session=98765
memang bisa bekerja secara teknis, tetapi sulit dibaca manusia.
Untuk website modern, terutama website berbasis konten, struktur URL yang lebih deskriptif biasanya lebih mudah dikelola.
Misalnya:
website.com/seo/cara-meningkatkan-traffic
Selain lebih mudah dibaca, struktur tersebut juga dapat membantu pengelola website memahami hierarki konten.
Namun, parameter URL tidak selalu buruk. Website e-commerce, filter produk, pencarian internal, dan sistem tertentu memang dapat membutuhkannya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana parameter tersebut dikelola agar tidak menciptakan masalah crawling atau duplikasi halaman.
Baca Juga: Cara Menargetkan Zero Search Volume Keywords untuk Strategi SEO
5. Menggunakan Underscore Secara Berlebihan
Kesalahan lainnya adalah menggunakan underscore sebagai pemisah kata:
website.com/cara_membuat_url_seo
Untuk slug, penggunaan tanda hubung atau hyphen lebih umum:
website.com/cara-membuat-url-seo
Google menjelaskan bahwa penggunaan tanda hubung membantu memisahkan kata dalam URL. Karena itu, gunakan hyphen jika ingin membuat slug yang mudah dibaca.
6. Tidak Menggunakan Huruf Kecil Secara Konsisten
URL yang menggunakan kombinasi huruf besar dan kecil dapat menimbulkan masalah pada server tertentu karena URL bisa bersifat case-sensitive.
Contohnya:
website.com/Cara-Membuat-URL
dan:
website.com/cara-membuat-url
Pada sistem tertentu, keduanya dapat dianggap sebagai URL yang berbeda.
Untuk menghindari kebingungan, praktik yang sederhana adalah menggunakan huruf kecil secara konsisten:
website.com/cara-membuat-url
Konsistensi seperti ini juga membuat URL lebih rapi saat dibagikan atau dicatat.
7. Menggunakan Karakter Khusus yang Tidak Diperlukan
URL sebaiknya tidak dipenuhi karakter yang sulit dibaca.
Contohnya:
website.com/artikel/seo%20terbaik%21
lebih sulit dibaca dibandingkan:
website.com/artikel/seo-terbaik
Gunakan struktur sederhana dengan kata-kata yang relevan dan hindari karakter khusus jika memang tidak diperlukan.
Beberapa sistem memang membutuhkan karakter tertentu untuk fungsi teknis. Jadi, aturan ini sebaiknya diterapkan sesuai kebutuhan website.
8. Membiarkan URL Berubah Tanpa Redirect
Ini merupakan salah satu masalah yang lebih serius.
Misalnya sebuah artikel awalnya menggunakan:
website.com/cara-optimasi-seo
Kemudian URL diubah menjadi:
website.com/panduan-optimasi-seo-website
Jika URL lama sudah terindeks Google, mendapatkan backlink, atau memiliki traffic, perubahan tersebut perlu ditangani dengan benar.
Salah satu praktik yang umum digunakan adalah redirect 301 dari URL lama ke URL baru.
Tanpa redirect yang tepat, pengguna yang mengakses URL lama dapat menemukan halaman error, sementara sinyal dari URL lama juga tidak dikelola dengan baik.
Jadi, jangan sembarangan mengubah URL halaman yang sudah memiliki performa SEO.
9. Membuat Banyak URL untuk Konten yang Sama
Satu konten sebaiknya memiliki URL utama yang jelas.
Masalah dapat muncul ketika konten yang sama dapat diakses melalui beberapa alamat berbeda, misalnya:
website.com/seo
website.com/seo/
website.com/article?topic=seo
website.com/blog/seo
Dalam kondisi tertentu, sistem website memang dapat menghasilkan beberapa URL untuk konten yang sama.
Jika tidak dikelola, hal ini dapat menyebabkan masalah canonicalization dan membuat mesin pencari harus menentukan URL mana yang dianggap sebagai versi utama.
Penggunaan canonical tag, redirect, dan konfigurasi teknis yang tepat dapat membantu mengatasi masalah tersebut.
10. Mengubah URL Hanya karena Ingin Memasukkan Keyword Baru
Optimasi SEO bukan berarti setiap perubahan keyword harus diikuti perubahan URL.
Misalnya sebuah halaman sudah menggunakan:
website.com/jasa-seo
Kemudian Anda menemukan keyword lain yang dianggap lebih menarik dan langsung mengubah URL menjadi:
website.com/jasa-seo-profesional-murah-terbaik
Padahal halaman lama sudah mendapatkan backlink dan traffic.
Perubahan seperti ini belum tentu memberikan manfaat yang sebanding dengan risikonya.
Jika URL yang digunakan sudah relevan, singkat, dan bekerja dengan baik, tidak ada alasan untuk mengubahnya hanya demi menambahkan beberapa kata.
11. Menggunakan Tanggal pada URL Tanpa Pertimbangan
Beberapa blog menggunakan format:
website.com/2026/09/16/tips-seo-website
Struktur tersebut tidak selalu salah. Namun, untuk konten evergreen yang terus diperbarui, tanggal di URL dapat menjadi kurang fleksibel.
Misalnya artikel tetap relevan selama bertahun-tahun. Jika URL mengandung tahun tertentu, pengguna bisa mengira artikel tersebut hanya relevan untuk tahun tersebut.
Untuk konten evergreen, struktur seperti:
website.com/tips-seo-website
bisa menjadi pilihan yang lebih sederhana.
Sementara itu, untuk situs berita atau publikasi yang memang menggunakan tanggal sebagai bagian dari struktur konten, format tanggal dapat tetap masuk akal.
12. Tidak Memikirkan Struktur URL Sejak Awal
Kesalahan lain adalah membuat URL tanpa memikirkan perkembangan website.
Website kecil mungkin hanya memiliki 20 halaman. Tetapi setelah beberapa tahun, jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan halaman.
Karena itu, struktur URL sebaiknya dirancang sejak awal.
Misalnya website perusahaan dapat menggunakan:
website.com/layanan/jasa-seo
website.com/layanan/pembuatan-website
website.com/blog/cara-optimasi-seo
Struktur tersebut membuat pengelolaan konten lebih terorganisasi.
Untuk website besar, struktur URL bahkan perlu dipertimbangkan bersama arsitektur informasi, internal linking, kategori, dan struktur SEO secara keseluruhan.
13. Mengabaikan Hubungan URL dengan Internal Linking
URL bukan elemen yang berdiri sendiri.
Ketika Anda mengubah URL sebuah halaman, semua internal link yang mengarah ke URL lama juga perlu diperiksa.
Misalnya:
Artikel A → mengarah ke /tips-seo
Kemudian URL berubah menjadi:
/tips-seo-website
Jika internal link lama tidak diperbarui, pengguna mungkin tetap diarahkan melalui redirect. Meskipun redirect dapat digunakan, memperbarui internal link secara langsung biasanya membuat struktur website lebih bersih.
Karena itu, setiap perubahan URL sebaiknya diikuti dengan audit internal link.
14. Membuat URL Berbeda-beda untuk Kategori yang Sama
Konsistensi juga penting.
Misalnya beberapa halaman menggunakan:
website.com/blog/tips-seo
sementara halaman lain menggunakan:
website.com/artikel/tips-seo
dan halaman lainnya:
website.com/post/tips-seo
Jika semuanya merupakan jenis konten yang sama, struktur tersebut bisa membuat pengelolaan website menjadi lebih rumit.
Tentukan pola URL yang jelas sejak awal dan gunakan secara konsisten.
15. Tidak Mengecek URL Setelah Website Bermigrasi
Migrasi website sering kali melibatkan perubahan struktur URL.
Misalnya:
website-lama.com/blog/tips-seo
menjadi:
website-baru.com/tips-seo
Jika daftar URL lama tidak dipetakan dengan benar ke URL baru, berbagai halaman dapat menghasilkan error 404 atau kehilangan akses dari link lama.
Karena itu, migrasi website perlu disertai proses URL mapping dan redirect yang terencana.
Checklist URL SEO Friendly
Sebelum mempublikasikan sebuah halaman, Anda dapat menggunakan checklist sederhana berikut:
Pastikan URL relevan dengan isi halaman.
Gunakan slug yang singkat dan deskriptif.
Gunakan huruf kecil secara konsisten.
Gunakan hyphen sebagai pemisah kata.
Hindari keyword stuffing.
Hindari parameter yang tidak diperlukan.
Hindari karakter khusus yang tidak relevan.
Pastikan setiap halaman memiliki URL yang jelas.
Jangan mengubah URL yang sudah memiliki performa tanpa alasan yang kuat.
Jika URL berubah, siapkan redirect yang sesuai.
Periksa internal link setelah perubahan URL.
Pastikan tidak ada masalah duplicate URL atau canonicalization.
FAQ tentang URL dan SEO
Apakah URL memengaruhi SEO?
URL merupakan salah satu bagian dari struktur halaman dan dapat memberikan konteks mengenai isi halaman. Namun, URL bukan satu-satunya faktor yang menentukan ranking di Google.
Apakah URL harus mengandung keyword?
Tidak wajib, tetapi menggunakan kata yang relevan dengan topik halaman dapat membantu pengguna memahami isi halaman dari URL.
Apakah URL pendek lebih baik untuk SEO?
URL yang singkat dan deskriptif biasanya lebih mudah dibaca dan dibagikan. Namun, tidak ada aturan bahwa URL harus memiliki jumlah karakter tertentu.
Apakah boleh mengubah URL yang sudah terindeks Google?
Boleh jika memang diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati. Gunakan redirect yang sesuai dan periksa internal link agar pengguna serta mesin pencari dapat diarahkan ke URL baru.
Apakah penggunaan angka pada URL buruk?
Tidak. Angka dapat digunakan jika memang relevan. Masalah biasanya muncul ketika URL dipenuhi angka atau parameter yang tidak memberikan informasi berarti.
Apakah tanda hubung lebih baik daripada underscore?
Untuk slug yang memisahkan kata, tanda hubung atau hyphen merupakan pilihan yang umum digunakan karena membantu memisahkan kata secara jelas.
URL mungkin terlihat sederhana, tetapi struktur yang buruk dapat membuat website lebih sulit dipahami dan dikelola. Masalah seperti URL terlalu panjang, keyword stuffing, perubahan URL tanpa redirect, duplicate URL, hingga struktur yang tidak konsisten sebaiknya dihindari sejak awal.
URL SEO friendly tidak harus rumit. Buatlah sesingkat mungkin tanpa menghilangkan konteks, gunakan kata yang relevan, pakai struktur yang konsisten, dan pikirkan bagaimana URL tersebut akan berkembang seiring bertambahnya halaman website.
Yang paling penting, jangan membuat URL hanya untuk mesin pencari. Buatlah URL yang ketika dilihat oleh manusia, mereka langsung memiliki gambaran mengenai isi halaman tersebut.





